"Suku Raksa sangat sulit diajak bekerjasama. Sejak kehancuran suku mereka, penduduknya terpecah belah dan menyebar ke berbagai penjuru. Selain itu, mereka tidak punya pemimpin. Bagaimana mungkin mereka mau dengan mudahnya bekerjasama dengan kita?"Kata salah satu penduduk yang hadir.

"Mereka juga jadi pencuri. Kalian ingat, beberapa orang suku Raksa mencuri obat-obatan kita, dan memukuli para penduduk yang berusaha menangkap mereka." Kata penduduk lainnya.

Lynx memberi kode kepada para penduduk agar tenang sebelum dia melanjutkan ceritanya. "Suku Raksa sekarang sudah berbeda. Mereka sudah bersatu dan memiliki seorang kepala suku bernama Raka."

"Apakah Raka, mantan tetua suku Raksa?" Tanya Maret yang memotong penjelasan Lynx.

Lynx menganggukkan kepala. "Betul, Raka yang pernah menjadi tetua Raksa, dia menyatukan sukunya yang berpencar dan kini memimpin suku mereka untuk melakukan perjalanan ke tempat ini."

"Apakah mereka bisa kita percaya?" Kata salah satu penduduk. "Mereka bisa saja sengaja membantu tapi sebenarnya ingin mencuri harta benda kita lagi."

"Tidak, kalian tidak perlu khawatir. Dendam mereka terhadap suku Monrest menjadi alasan utama mereka setuju bergabung." Jawab Lynx.

"Kami sangat mengenal Raka. Dia tetua yang sangat bijak dan menjadi orang kepercayaan ketua suku sebelumnya." Kata Drona menambahkan.

Lynx menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "Selain suku Uksa dan Raksa, aku juga bertemu dengan suku Yaksa."

"Yaksa? Bagaimana kamu bisa menemukannya? Mereka ahli di bidang perairan. Sungai-sungai ini sangat dikenal baik oleh mereka, tapi mereka susah ditemukan karena berpindah-pindah." Tanya Maret dengan mata berbinar senang. Dia tahu suku Yaksa sangat mahir berperang di air.

"Benar," jawab Lynx sambil mengangguk. "Mereka para nelayan yang sangat terampil, aku bertemu mereka saat menghadapi para perampok yang bekerjasama dengan Monrest. Dan suku Yaksa yang ingin menyelamatkan putri salah satu tetua mereka, ditangkap juga oleh perampok"

Kerumunan mulai berbisik-bisik lagi. Salah seorang penduduk berkata dengan nada prihatin, "Perampok itu memang biadab. Mereka bukan hanya merampas, tetapi juga mereka suka menangkap orang-orang sebagai budak kepada Monrest!"

"Ya, itu yang terjadi," kata Lynx. "Para perampok itu menangkap orang-orang termasuk suku Yaksa untuk diserahkan kepada Monrest. Aku datang tepat waktu dan membebaskan mereka dari tangan para perampok itu."

"Kamu membebaskan mereka?" Maret mengerutkan kening, terkejut. "Bagaimana caramu mengalahkan perampok sebanyak itu?"

Lynx tersenyum samar. "Mungkin sedikit keberuntungan, dibantu beberapa orang Raksa. Salah satu orang yang ditangkap adalah Uban, kepala suku Yaksa beserta beberapa tetuanya."

"Kepala suku? Bagaimana bisa mereka menangkap kepala suku dan tetuanya? Apakah perampok itu menyerang perkampungan suku Yaksa?" Suara keheranan dari para tetua terdengar.

"Di suku Yaksa, terdapat seorang tetua yang berkhianat. Dia menyerahkan anak gadis dari tetua lainnya kepada para perampok. Dalam usaha untuk menyelamatkan anaknya, rombongan suku Yaksa melancarkan serangan diam-diam ke perkampungan para perampok. Kepala suku dan beberapa tetua lainnya ikut serta dalam serangan itu, namun mereka ditangkap. Semua ini terjadi akibat ulah tetua pengkhianat yang membocorkan rencana mereka."

Setelah berhasil menyelamatkan mereka, aku menemui Uban, pemimpin suku Yaksa. Dia adalah seorang yang bijak, meskipun suku mereka telah mengalami banyak penderitaan."

"Uban?" tanya salah seorang tetua dengan nada terkejut. "Ternyata masih dia yang memimpin suku Yaksa. Sangat lama kami tidak bertemu dengan mereka. Dia adalah seorang pemimpin yang terkenal karena keahliannya bertahan hidup di sungai. Tidak mudah baginya untuk mempercayai orang luar."

"Itu benar," jawab Lynx. "Setelah kejadian itu, Uban kemudian mengumpulkan sukunya, dan setelah diskusi panjang, dia setuju untuk bergabung dengan kita dalam melawan Monrest."

"Ini berita baik," kata Drona dengan nada lega. "Suku Yaksa adalah aset besar. Mereka tidak hanya tangguh, tetapi juga memiliki pengetahuan mendalam tentang sungai-sungai disini. Mereka bisa membantu kita menyusun strategi bertahan."

Lynx melanjutkan, "Saat ini, ketiga suku, Raksa, Uksa dan Yaksa, sedang dalam perjalanan menuju kesini. Ini adalah awal perjuangan kita untuk membebaskan seluruh pulau dari cengkeraman Monrest."

Maret tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Lynx dengan penuh semangat. "Kamu telah melakukan hal yang luar biasa, Lynx. Dalam waktu singkat, kamu tidak hanya memperkuat posisi kita, tetapi juga membawa harapan bagi seluruh pulau ini."

Kerumunan penduduk bersorak, merasa optimis dengan masa depan mereka. Tetapi di tengah kebahagiaan itu, Lynx mengangkat tangannya untuk meminta perhatian.

"Namun, aku perlu mengingatkan kalian," katanya dengan nada serius. "Monrest tidak akan diam. Mereka pasti akan menyerang lagi, dan kali ini, mereka mungkin membawa kekuatan yang jauh lebih besar. Kita harus bersiap."

"Bagaimana caranya melawan mereka?" tanya salah seorang penduduk dengan nada cemas. "Kekuatan mereka sangat luar biasa, apalagi para makhluk mutasi."

"Langkah pertama, kita akan persiapkan tempat untuk kedatangan suku-suku lainnya," jawab Lynx. "Dan dengan bantuan suku-suku yang datang, kita bisa memperkuat pertahanan kita. Ini bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga kerja sama. Jika kita bersatu, kita memiliki peluang untuk menang."

"Kita harus segera memulai," kata Maret tegas. "Kita akan mengatur strategi, membagi tugas, dan mempersiapkan desa ini menjadi benteng yang kuat."

Lynx mengangguk, lalu memandang Lala dan Mochi. "Dan kalian… aku tahu tujuan kalian disini menemukan Milo. Apa rencana kalian selanjutnya ? Disini, kalian punya kesempatan untuk membantu kami. Apa kalian bersedia?"

Lala tersenyum tipis. "Kami datang ke sini untuk menemukan ayahku, selain itu kami tidak mempunyai cara untuk kembali. Disini sekarang aku melihat ada lebih banyak hal yang harus kami lakukan. Kami akan membantu."

Mochi mengangguk setuju. "Kami adalah bagian dari ini sekarang. Kami tidak akan mundur."

Sorak-sorai kembali terdengar di antara penduduk, semangat baru membara di hati mereka. Perkampungan Sinto, yang sebelumnya penuh dengan kesedihan dan ketakutan, kini mulai berubah menjadi pusat perlawanan yang penuh harapan.

***

Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, suasana di perkampungan Sinto perlahan tenang setelah keramaian di balai pertemuan. Para penduduk mulai kembali ke aktivitas malam mereka, beberapa memasak, sementara yang lain menjaga peralatan untuk memperkuat pertahanan desa. Namun, perasaan harapan mulai mengatasi duka yang sebelumnya memenuhi hati mereka.

Lala dan Mochi duduk di dalam rumah kepala suku, ditemani oleh Aliah yang dengan ramah menyiapkan teh herbal. Aliah, meskipun lelah, berusaha membuat tamu mereka merasa nyaman.

“Kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang,” kata Aliah lembut sambil meletakkan cangkir di hadapan mereka. “Minumlah ini, akan membantu kalian merasa lebih baik.”

Lala tersenyum tipis. "Terima kasih, Aliah. Rasanya sudah lama sekali sejak aku merasakan kehangatan seperti ini."

Mochi mengangguk. "Kami sangat menghargai keramahan kalian. Perjalanan ini tidak mudah, tapi aku merasa lega mengetahui ada orang-orang seperti kalian di sini."

Aliah hanya tersenyum, lalu duduk di dekat mereka. “Kami juga bersyukur kalian mau membantu kami. Meskipun dunia kita berbeda, kalian tetap bersedia berjuang bersama kami.”

***

Kembali ke beberapa waktu sebelumnya, setelah pertemuan usai, Lynx mencoba mendekati Leena yang berdiri tidak jauh, tampak sibuk berbicara dengan beberapa tetua. Di sampingnya terdapat Lala dan kakeknya, Mochi. Lynx merasa Leena selalu menghindarinya. Ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengannya dan mencari tahu alasan perubahan sikapnya.

“Leena,” panggil Lynx, menghampiri. “Kita perlu bicara.”

Leena menoleh dengan alis terangkat. "Bicara? Untuk apa lagi? Aku sibuk, Lynx. Aku akan menemani Lala."

Namun, sebelum dia melangkah pergi, terdengar suara Lala yang berada di dekatnya. “Leena! Temui Lynx dulu. Aku baik-baik saja di sini bersama Kakek Mochi dan Aliah. Kamu tidak tahu, sepanjang perjalanan, Lynx selalu mengkhawatirkan dirimu dan sering menceritakan tentang dirimu.”

"Apa yang dia ceritakan?" tanya Leena, menundukkan kepala dan mendesah malu, merasa enggan.

"Pergilah dan tanyakan langsung ke orangnya," kata Lala.
